HUT RI 2026: Menuju Indonesia (C)Emas

Opini & Artikel 16 Aug 2026 08:00 3 min read 42 views By Udin Syam
HUT RI 2026: Menuju Indonesia (C)Emas
OLEH : MIRWANUDDIN**

‎Di sudut-sudut kota, baliho-baliho membentang kaku, mengeja kata-kata yang terlalu besar untuk dikunyah perut lapar: "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur". Sebuah mantra tahunan yang diulang-ulang di bawah terik kemerdekaan ke-81. 

‎Di luar sana, orang-orang sibuk menaikkan bendera, membetulkan bambu yang rapuh, sementara di dapur-dapur kecil, beras semakin tipis dan harga-harga melonjak tanpa belas kasihan.

‎Kemerdekaan, konon, adalah jembatan emas. Namun pada tahun 2026 ini, jembatan itu tampak berlubang di sana-sini. Orang-orang menatap dengan mata kosong—bukan lagi karena marah, melainkan karena lelah. 

‎Apatisme tumbuh subur bukan karena mereka benci pada tanah airnya, melainkan karena mereka merasa asing di rumah sendiri. Ketika para penjaga istana sibuk merawat kemewahan dan menutup telinga dari bawah, kata "daulat" berubah menjadi lelucon pahit. 

‎Suara rakyat hanya dicari setiap lima tahun sekali, terus seperti kail yang dilempar ke kolam hanya saat musim panen suara tiba.

‎Padahal, dalam kitab-kitab tua, kekuasaan bukanlah singgasana untuk memukul dada. Ia adalah amanah—sebuah kata berat yang dipikul langit dan bumi, yang jika dikhianati, menjanjikan api neraka. 

‎Para ulama bahasa menyamakan kata al-amanah dengan makna yang mutlak: tak ada kedaulatan tanpa keadilan, tak ada kemakmuran tanpa kejujuran. 

‎Ketika hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, ketika pejabat menipu rakyatnya sendiri, runtuhlah bangunan moral sebuah bangsa.

‎Kita sedang berdiri di persimpangan jalan yang ganjil. Impian besar bernama “Indonesia Emas” terancam menyusut menjadi “Indonesia Cemas”. 

‎Generasi muda menatap masa depan dengan kening berkerut, bertanya-tanya apakah negeri ini masih menyediakan ruang bagi mereka yang jujur, ataukah ia hanya milik mereka yang berkolusi.

‎Ah, merdeka rupanya bukan sekadar bebas dari serdadu asing. Merdeka yang sejati adalah ketika tangisan rakyat didengar, ketika keadilan ditegakkan tanpa memandang bulu, dan ketika para pemimpin turun dari menara gadingnya untuk sekedar mencium bau keringat anak negeri. 

‎Sebelum semuanya terlambat, sebelum krisis kepercayaan merobek tenun kebangsaan kita dari dalam, cermin retak ini harus segera dibersihkan. Sebab bangsa yang kehilangan rasa percaya, pada hakikatnya sedang menunggu waktu untuk runtuh.

‎Sang nabi Agung menarik batas amanah: Tidak seorang hamba pun yang diserahi Allah kepemimpinan untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya. (HR.Muslim). ‎Wallahu a'lamu bis_shawaab.

‎‎**)Penulis adalah pembelajar pada diskusi diskusi terbatas (limited group) kajian Al_Qur'an berbasis Ilmu 'Alat. Alumni IMM FISIP Unmuh Malang.