Makna Pertemuan di Momen Maulid — Antara NU dan Pemerintah Lumajang

Opini & Artikel 24 Aug 2026 06:39 4 min read 39 views By Udin Syam
Makna Pertemuan di Momen Maulid — Antara NU dan Pemerintah Lumajang
Oleh : SYAMSUDIN NABILAH*

LAILATUL Ijtima’ PCNU Lumajang yang dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, doa kesuksesan Muktamar NU, dan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi momen yang cukup menarik. Terlebih ketika Bupati Lumajang, Bunda Indah Amperawati hadir di tengah acara dan menyampaikan sejumlah pesan yang patut dicermati.

Dari pidato Bunda Indah, setidaknya ada tiga hal penting yang bisa kita maknai sekaligus kita jadikan bahan renungan bersama.

Pertama, peringatan Maulid menjadi momen semangat bersama membangun Lumajang. Secara tersirat, hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Lumajang sangat membutuhkan dukungan dan kebersamaan dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

Bagaimanapun juga, mayoritas masyarakat Lumajang adalah warga NU — baik yang tergabung secara struktural, yang hidup dalam nuansa budaya pesantren, maupun masyarakat luas yang lahir dari lingkungan NU meski tak memiliki kartu anggota NU (Kartanu). Ucapan Bunda Indah seakan menjadi pengakuan tersirat "pemerintah butuh kedekatan, dukungan, dan legitimasi dari warga NU demi kemajuan bersama".

Hal ini menjadi menarik mengingat pada Pemilihan Bupati Lumajang 2024 lalu, Bunda Indah bukanlah pilihan yang didukung secara umum oleh kalangan NU. Kehadiran beliau di tengah kader NU dan pesan persaudaraan yang disampaikannya menjadi tanda bahwa kedua pihak kini saling memahami dan menjaga silaturahmi.

Perbedaan pilihan politik pada masa lalu adalah hal yang lumrah dalam demokrasi. Yang terpenting kini, semangat membangun tidak boleh terhenti hanya karena berbeda jalur pada pemilu. Semoga pemahaman ini terus tumbuh dan mempererat kerja sama.

Kedua, Bunda Indah mengingatkan agar peringatan Maulid tidak sekadar seremonial, melainkan menjadi momen meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW (Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah).

Empat sifat mulia ini sungguh mudah diucapkan, namun dalam kenyataannya sering kali sulit sepenuhnya dijalankan. Terlebih lagi, beliau mengaitkan keteladanan Nabi dengan kemajuan daerah — bahwa pembangunan tak cukup hanya dengan fisik semata, melainkan juga butuh masyarakat yang berakhlak, peduli, dan bersatu.

Jika pengurus dan jamaah NU memahami pesan ini dengan baik, maka seharusnya tak ada alasan bagi kalangan NU untuk ikut serta membangun Lumajang dengan tulus, meskipun Bupati yang menjabat saat ini bukanlah pilihan politik mereka. Menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan dan kemaslahatan bersama harus melampaui perbedaan pilihan politik sesaat.

Ketiga, diakui atau tidak, NU memiliki peran besar di Lumajang — pesantren, madrasah, masjid, lembaga pendidikan, badan otonom, majelis taklim, para kiai dan kader, semuanya tersebar hingga ke pelosok desa.

Pertanyaannya kemudian, sejauh mana kontribusi tersebut telah membawa kemandirian dan kesejahteraan bagi warga NU sendiri?

Kita perlu jujur melakukan evaluasi. Di bidang ekonomi misalnya, apakah lembaga-lembaga ekonomi NU sudah mapan dan membuat warga NU secara umum lebih sejahtera? Atau yang menikmati kemajuan baru sekelompok kalangan saja, sementara warga NU di lapisan bawah kondisinya belum banyak berubah?

Begitu pula dalam dunia pendidikan. Apakah lembaga pendidikan NU sudah unggul dalam kualitas maupun kuantitas? Atau tampak besar jumlahnya, namun mutunya masih perlu banyak pembenahan?

Pertanyaan ini tidak harus dijawab secara terbuka oleh PCNU Lumajang. Cukup menjadi bahan introspeksi internal. Melihat sejauh mana pencapaian, memperbaiki yang masih kurang, dan mempertahankan yang sudah baik. Jika semuanya sudah berjalan sangat baik, alhamdulillah. Namun jika masih ada yang perlu dibenahi, momen-momen seperti inilah saatnya berbenah dengan semangat baru.

Sebagai penutup, mari kita ingat pesan luhur, "Hubbul Wathan Minal Iman" — cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Maka, PCNU Lumajang, tokoh, kiai, dan seluruh warga NU memiliki tanggung jawab moral untuk ikut memperbaiki kondisi daerah tercinta.

Apapun persoalan yang ada di Lumajang — masalah keamanan, tata kelola pemerintahan yang mungkin masih perlu diperbaiki, kesejahteraan ekonomi umat, mutu pendidikan, isu lingkungan, peredaran narkoba maupun miras, serta berbagai persoalan sosial lainnya — NU tidak boleh berdiam diri, apalagi bersikap apatis.

Jika belum mampu ikut menyelesaikan secara langsung, minimal hadir dengan saran, pemikiran yang membangun, dan rekomendasi yang disampaikan kepada pemerintah daerah, aparat penegak hukum, maupun para anggota dewan pembuat kebijakan.

Semoga di momen kelahiran Nabi Muhammad SAW ini, lahir pemikiran-pemikiran yang cerdas, tajam, dan bermanfaat dari PCNU Lumajang — sebagaimana cerdasnya Rasulullah SAW dalam memimpin dan membimbing umat. Semoga.

*)Penulis : Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk, Sumenep. Mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jember Komisariat Sastra Unej. Penulis – Jurnalis.