Kawasan PKL Toga Selatan Kumuh Penjual dan Petugas Seperti Tak Peduli
LUMAJANG - Jika anda ingin melihat pemandangan tak sedap dan kumuh sekali-kali datang dan ngopi di kawasan Toga Selatan (Jalan Katamso) Lumajang. Sampah-sampah terlihat berserakan dimana mana. Bukan hanya sampah daun yang terlihat tapi juga sampah plastik, kertas, dan sampah lainnya. Padahal kawasan ini termasuk kawasan perkotaan.
Sekilas, sepertinya tak ada yang peduli untuk memungut dan membersihkan sampah-sampah ini. Baik pemilik toko yang berjejer di sebelah timur atas maupun PKL pemilik rombong di depannya (pinggir jalan).
Bukan hanya itu, rumput-rumput liar tumbuh subur. Rombong penjual yang sudah tidak dipakai untuk berjualan oleh pemiliknya penuh debu dan sekitarnya ditumbuhi bayam dan rumput liar. Rombong rombong dibiarkan begitu saja.
Tong sampah pun tidak terlihat. Parahnya, menurut Bu Sol, kondisi ini tidak hanya berlangsung satu dua hari, tapi berbulan bulan lamanya, bahkan tahunan.
"Sudah lama mas. Saya seringkali ikut bersih bersih. Tapi capek juga kalau pemiliknya sendiri tidak membersihkan. Sedangkan petugas kebersihan dari DLH hanya nyapu bagian pinggir jalan sesuai tugasnya. Gak sampai ke dekat rombong gerobak yang kosong dan kotor, apalagi sampai mencabuti tanaman liar", pungkas Ibu Sol, salah seorang pemilik warung Toga saat ditemui media ini, Kamis, 30 Juli 2026.
Perlu diketahui, di kawasan ini ada puluhan PKL yang mangkal di pinggir-pinggir jalan dan pertokoan di sebelah timur atas, dan beberapa di antaranya tutup. Meskipun posis PKL ini tidak permanen, mereka tetap dikenakan retribusi setiap hari. Besarannya Rp. 2.000/ hari.
"Kita ditariki karcis setiap hari, dua ribu rupiah per PKL. Kita rutin bayar tapi tak pernah ada pembenahan maupun bantuan apapun. Biasanya kita didatangi petugas pas ada penilaian kebersihan agar ditutup sementara. Tidak jualan.," ungkapnya.
Dia sebenarnya ingin usul kepada pemerintah daerah agar PKL di kawasan ini ditata lebih rapi dan bersih. Tapi dia mengaku kebingungan kemanan dan ke siapa dia mau usul.
"Saya punya usulan bagaimana rombongnya diseragamkan. Lokasinya ditata lebih rapi. Semua diseragamkan tempat jualannya sama pemerintah. Nanti di setiap PKL dikasik tong sampah. Disediakan sapu lidi. Tapi siapa yang bisa melakukan ini?", ungkapnya dengan nada bertanya. (*).