Menuju Cabang Penuh, HMI Lumajang Fardhu 'Ain Menjadi Mitra Kritis Konstruktif Pemerintah Daerah

Opini & Artikel 20 Aug 2026 02:40 4 min read 84 views By Udin Syam
Menuju Cabang Penuh, HMI Lumajang Fardhu 'Ain Menjadi Mitra Kritis Konstruktif Pemerintah Daerah
Oleh : SYAMSUDIN NABILAH*

SUASANA pelantikan Pengurus HMI dan Kohati Cabang (P) Lumajang, di BKPSDM, Sabtu, 15 Agustus 2026, berlangsung meriah. Tarian Topeng Kaliwungu membuka acara, diikuti rangkaian seremonial yang penuh semangat. Namun di balik kemeriahan itu, pesan-pesan yang disampaikan Bupati Lumajang, Bunda Indah, justru menjadi cermin sekaligus pengingat bagi HMI Lumajang, bahwa status "Cabang Persiapan" belum cukup. Harus segera melangkah menjadi "Cabang Penuh", dan perubahan itu tidak datang dari seremonial, melainkan dari kerja nyata, perbaikan internal, dan kehadiran di tengah persoalan masyarakat.

DARI CABANG PERSIAPAN MENUJU CABANG PENUH TAK SEKADAR STATUS 

Kenaikan status menjadi Cabang Persiapan patut disyukuri, apalagi usaha HMI Lumajang menjadi Cabang memakan waktu cukup lama. Namun, ini bukan titik akhir, melainkan awal perjuangan yang sesungguhnya. HMI Lumajang belum bisa berpuas diri.

Pertanyaan besar berikutnya, kapan dan bagaimana menjadi Cabang Penuh? Status itu tidak diraih dengan gelar semata, melainkan dengan kekuatan kader, kedisiplinan organisasi, dan konsistensi kerja. Tanpa itu, nama besar HMI hanya menjadi atribut yang kosong.

PERBAIKI INTERNAL 

Poin paling mendasar yang harus segera diperhatikan adalah kondisi internal organisasi. Seringkali, di tubuh organisasi mahasiswa justru terjadi konflik antar-pengurus, urusan orang lebih mendominasi daripada urusan program dan kaderisasi. Jika ini dibiarkan, HMI Lumajang hanya akan sibuk dengan dirinya sendiri, lupa pada tugas pokoknya.

Oleh karena itu, tanpa bermaksud menggurui, pengurus baru harus segera : menghindari konflik internal dan mengutamakan musyawarah. Memperbanyak dan memperbaiki kaderisasi di kampus — bukan sekedar mengejar jumlah, tapi bagaimana kader yang direkrut menjadi berkualitas, yang bisa rajin membaca, berpikir, dan berpikir kritis. Menghidupkan kembali budaya literasi dan diskusi.

HMI selama ini dikenal sebagai organisasi yang kritis karena kader-kadernya gemar membaca, berdebat, dan mengkaji persoalan. Jika budaya ini luntur, identitas HMI pun ikut memudar. Menata kerapian dan manajemen organisasi agar berjalan tertib, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

KRITIS KONSTRUKTIF 

Bupati Indah menyampaikan pesan, "Jangan selesai dilantik. Ayo bergerak." Kalimat itu bukan sekedar seremonial. Itu adalah pembulatan sekaligus panggilan dan alarm. HMI Lumajang tidak boleh hanya menjadi organisasi yang sibuk dengan dirinya sendiri. Organisasi ini harus hadir, melihat, dan menyuarakan apa yang terjadi di sekitarnya.

Ada begitu banyak persoalan di Lumajang yang memerlukan pandangan, gagasan, dan partisipasi kader HMI, sebagian di antaranya : masalah pendidikan — kualitas dan pemerataan akses. Pariwisata — bagaimana dikelola dengan adil dan tidak merusak lingkungan. UMKM dan ekonomi rakyat agar benar-benar mengangkat kesejahteraan masyarakat, kesehatan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang masih perlu ditingkatkan. Ketertiban umum — PKL yang semakin memenuhi bahu jalan dan tak teratur di seputaran pusat kota. Sampah yang membutuhkan penanganan lebih serius lagi. Program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih — perlu menyertakan, dikritisi, dan didukung jika benar, diperbaiki jika masih ada kekurangan.

Kemudian masalah generasi muda yang semakin terjerat gawai — lebih banyak mengungkap layar HP daripada membaca buku, lebih cepat percaya kabar hoax di media sosial daripada mencari kebenaran. Toleransi dan kerukunan — harus terus dijaga di tengah keberagaman. Narkoba, miras, dan pergaulan bebas — ancaman nyata bagi masa depan pemuda Lumajang.

Bunda Indah juga mengingatkan, saat Pemerintah Kabupaten Lumajang menutup toko miras tanpa izin, beberapa waktu lalu, tidak ada satu pun komunitas pemuda yang datang membantu. Yang ada hanya "jempol di media sosial".

Ini catatan keras bagi HMI. Jangan sampai HMI hanya hadir saat acara pelantikan dan bahagia dihadiri oleh Bupati, tapi absen saat masyarakat dan pemerintah membutuhkan.

TETAP BERIDENTITAS ISLAM

Pesan Bupati Indah sangat tegas. “Di HMI jangan lupa Islamnya. Kalau keluar dari ajaran Islam bukan HMI.” Ini adalah fondasi yang tidak boleh digeser. Namun, berlandaskan Islam bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan, atau menjadi organisasi yang tunduk pada kekuasaan.

Justru nilai-nilai Islam — keadilan, kejujuran, kepedulian, kebenaran — itulah yang harus menjadi sumber semangat untuk berbicara lantang apabila kebijakan pemerintah kurang tepat.

HMI harus tetap menjadi mitra yang kritis dan konstruktif. Mendukung kebijakan yang pro-rakyat, dan mengkritik dengan santun, namun tegas jika ada yang melunak. Bukan untuk menentang, tapi untuk mengingatkan — agar pembangunan Lumajang benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Akhiron, pelantikan sudah selesai. Seremonial sudah berlalu. Kini tinggal satu hal, buktikan dengan kerja. HMI Cabang (p) Lumajang, jangan hanya bangga dengan status baru — banggalah ketika kader-kadernya hadir di tengah persoalan, menjadi solusi, menjaga nilai-nilai Islam, dan menjadi penyeimbang sekaligus mitra kritis bagi pemerintah. 

Jadilah organisasi yang tidak hanya pandai berpidato, tapi juga pandai bekerja, berpikir, dan berbakti untuk Lumajang.

Yakusa — Yakin Usaha Sampai. Keyakinan itu harus diwujudkan dengan langkah nyata. Semoga HMI Lumajang segera menjadi Cabang Penuh, bukan hanya di atas kertas, melainkan dalam karya, kader, dan peng

Penulis: *)Matan Ketua Umum HMI Cabang Jember Komisariat Sastra, Unej. Jurnalis - Penulis. Alumni Ponpes Annuqayah Guluk guluk Sumenep.