Skodsa Lumajang Manfaatkan Teknologi Selain Buku

Agama & Pendidikan 22 Jul 2026 18:35 3 min read 32 views By Udin Syam
Skodsa Lumajang Manfaatkan Teknologi Selain Buku
Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Sukodono Lumajang, Eddy Purwanto, S.Pd, MM.

LUMAJANG - Kemajuan teknologi semakin tak terbendung. Tidak bisa dicegah. Tidak bisa dihindari. Begitu pula dengan munculnya telpon genggam (HP). Tinggal bagaimana memanfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan kemampuan dalam meraih prestasi dan menguasai ilmu pengetahuan, termasuk siswa. 

Salah satu sekolah yang memanfaatkan teknologi tersebut adalah SMP Negeri 1 Sukodono  (Skodsa) Sukodono Lumajang, Jawa Timur. Jika bapak ibu guru membutuhkan HP untuk pembelajaran/ proses belajar mengajar, maka HP bisa digunakan. 

"Biasanya anak-anak suka model kuis. Ada pertanyaan singkat terus dijawab melalui HP. Anak anak senang. Kita manfaatkan HP untuk pembelajaran. Kalau anak-anak senang, maka muncul motivasi untuk terus belajar. Kalau pembelajaran hanya terpaku di papan tulis, pemberian tugas, anak-anak lekas bosan," papar Kasek Skodsa Sukodono Lumajang, Edy Purwanto, S.Pd, MM, lewat seluler.

Diakuinya, Skodsa Sukodono Lumajang masih kekurangan proyektor untuk pembelajaran. Maka dari itu, jika ada pembelajaran yang berhubungan dengan teknologi maka HP lah solusinya.

Apakah kehadiran teknologi berupa HP, AI (Artificial Intelectual) berpengaruh pada rajin tidaknya siswa dalam belajar, Ia menjawab, kehadiran teknologi tidak bisa ditolak. 

"Itu kan metode. Salah satu cara saja agar anak didik lebih enjoy, senang, tertarik, dan tidak bosan dalam belajar," paparnya. 

Selain memanfaatkan teknologi, pihak sekolah tetap melakukan sentuhan atau pendekatan emosional, kejiwaan.

"Kalau ini tetap harus ada. Karena di sini sudah kita sampaikan, bahwa visi kita pribadi terpuji. Pinter harus. silahkan jadi anak pintar. Tugas siswa belajar agar pintar. Tapi tetap harus menjadi pribadi terpuji. Berprestasi dan beradab. Meskipun mereka pandai teknologi, tapi akhlak, sopan santun, prilaku tetap sangat perlu.Tetap jadi penilaian kita," paparnya.

BUKU PAKET UNTUK SISWA

Dalam proses belajar buku tetap menjadi penting dan yang digunakan adalah buku yang disarankan oleh pemerintah (buku paket). Meski demikian, bila ada buku paket yang dirasa kurang  misalkan terkait pembahasannya, maka guru diminta kreatif, misalnya membuat LKS sendiri. 

"Kemudian LKS nya bisa ditulis atau difotocopy. Begitu. Karena, sebelum pandemi covid 19 sudah tidak ada LKS dari penerbit kalau di sekolah kita," pungkasnya.

Dijelaskan, setiap tahun ada beberapa buku mata pelajaran (mapel) yang perlu direvisi. Salah satunya mapel IPS. Tahun sebelumnya ada buku mapel matematika yang direvisi. Jadi, ada beberapa buku paket yang direvisi karena adanya metode pendekatan pembelajaran mendalam. 

"Dulu, yang pembelajarannya mendalam sekarang lebih mendalam lagi dengan adanya kurikulum pembelajaran mendalam," tuturnya.

Dipaparkan, pengadaan buku paket diambil dari dana BOS sesuai dengan kuota yang ada di dana BOS, yakni 20 persen. 

Misalkan pembelian buku paket sudah terpenuhi semua, maka dialokasikan ke buku literasi lain untuk koleksi perpustakaan. Apakah buku bacaan atau buku lain yang relevan.

Yang terpenting lagi, bahwa pengadaan buku paket sesuai dengan perencanaan tanpa harus terpaku satu penerbit serta standar dari pusat. 

"Bila ada buku revisi dari pusat ya.... buku dari pusat itu yang kita pakai. Kita tinggal memilih penerbit mana. Kalau misalnya tidak diterbitkan lagi tapi masih relevan, masih cocok maka tinggal memperbanyak," pungkasnya.

"Kalau memang bukunya masih relevan maka bisa dipakai lagi", imbuhnya. (*)