Surat Terbuka Untuk DPR, MPR, dan Presiden Serta Rakyat Indonesia
Kepada Yang Terhormat,
1. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
2. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
3. Presiden Republik Indonesia
4. Segenap Rakyat Indonesia di manapun berada
Dengan hormat. Salam sejahtera, Damai di Bumi Pertiwi.
Saya bagian kecil dari rakyat Indonesia yang masih memegang teguh nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan keadilan, menyampaikan SURAT TERBUKA ini dengan hati yang bergetar dan sepenuhnya terbuka.
Seperti kita ketahui bersama, Mahkamah Konstitusi (MK) pada 6 Oktober 2026 kemarin, telah menyampaikan keterangan yang sungguh menggetarkan hati segenap bangsa. Dokumen yang dijadikan dasar untuk memangku jabatan Wakil Presiden Republik Indonesia, ternyata bukanlah ijazah tamat Sekolah Menengah Atas atau sederajat sebagaimana yang diwajibkan oleh Undang-Undang. Yang ada hanyalah surat keterangan penyetaraan pengetahuan, dan Mahkamah telah menegaskan dengan tegas, bahwa pengetahuan tidak setara dengan tamat sekolah. Tidak ditemukan bukti yang meyakinkan bahwa yang bersangkutan pernah menyelesaikan pendidikan tersebut, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Saya tidak bermaksud membenci siapa pun, juga tidak bermaksud menjatuhkan pihak tertentu. Namun, saya berdiri di sini bukan hanya untuk diri saya sendiri, melainkan atas nama masa depan negeri ini — atas nama anak-anak, cucu-cucu, hingga cicit kita kelak.
Saya (mungkin juga pembaca), tidak ingin mewariskan ketidakadilan, ketidakjujuran, dan ketidakterbukaan kepada generasi yang akan datang. Saya tidak ingin anak cucu kita hidup di bawah aturan yang bisa ditekuk sesuka hati, di mana kebenaran bisa dibisukan, dan syarat hukum bisa diubah hanya untuk menguntungkan mereka yang berkuasa. Jika hari ini kita diam saja, maka kita sedang menanam benih yang kelak akan dipanen oleh keturunan kita — benih keraguan, benih ketidakpercayaan, benih keculasan, benih ketidakadilan yang akan tumbuh menjadi semak belukar yang menghalangi jalan kemajuan bangsa.
Saya tidak ingin nilai-nilai luhur kejujuran — yang sejak kecil diajarkan kepada kita, yang diwariskan oleh para pendiri bangsa ini dengan darah dan air mata — perlahan tergeser, terkubur, dan akhirnya tergantikan oleh arogansi kekuasaan, keangkuhan intelektual, serta matinya hati nurani untuk berani mengatakan "yang benar itu benar, dan yang salah itu salah".
Saya tidak ingin Pancasila — yang menjadi pedoman hidup kita sejak di bangku sekolah hingga akhir hayat — dikhianati dan digantikan oleh kelakuan mereka yang saya sebut sebagai "pelacur kekuasaan" dan "Fir'aun-Fir'aun" model baru. Mereka yang merasa di atas hukum, yang menganggap kekuasaan adalah hak milik pribadi, yang lupa bahwa mereka hanyalah meminjamkan amanah dari rakyat, dan suatu saat wajib mengembalikannya dengan tanggung jawab jawaban yang tak bisa dielakkan.
Jika hal ini dibiarkan berlanjut, maka janganlah kita bertanya-tanya kelak jika alam pun ikut murka. Janganlah kita menyalahkan bencana yang datang bertubi-tubi, jika di dalam diri kita sendiri, di pucuk pimpinan negeri ini, kebenaran sudah tidak lagi dihargai. Janganlah kita terkejut jika kehancuran menyapa anak-anak kita, cucu-cucu kita, hingga ke cicit kita — karena ketidakjujuran yang kita biarkan hari ini akan menjadi warisan malapetaka bagi mereka esok hari.
Na'uzubillah Tsumma Na'udhubillah — kita berlindung kepada Allah, lalu kembali berlindung kepada-Nya, agar negeri ini tidak jatuh ke dalam kehancuran yang tak mampu kita perbaiki.
Oleh karena itu, saya memohon kepada para pemimpin bangsa — kepada DPR, MPR, dan Bapak Presiden — ambillah kebijakan yang adil, seadil-adilnya. Tegakkan hukum tanpa memandang bulu jikalau keduanya (yang pro dan kontra sama-sama ngotot mengaku benar versi mereka masing-masing). Jangan biarkan satu orang dan segelintir kelompok mengubah arah sejarah bangsa demi kepentingan pribadi atau golongan. Kembalikan kepercayaan rakyat ke tempat yang lurus.
Kepada seluruh saudara sebangsa dan setanah air, mari kita jaga ketenangan, jaga persatuan, jaga kedamaian. Sampaikanlah aspirasi ini dengan cara yang luhur, tenteram, dan damai. Jangan ada saling caci, jangan ada kekerasan. Kebenaran tidak memerlukan amukan, ia cukup tegak dengan kesabaran dan keteguhan hati. Tetaplah bersatu, karena persatuan adalah benteng terakhir yang kita miliki.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa membukakan hati para pemimpin kita untuk melakukan apa yang benar, bukan apa yang menguntungkan. Semoga Indonesia tetap menjadi negeri yang aman, adil, dan sejahtera — bukan hanya untuk kita, melainkan untuk anak cucu kita, hingga masa-masa yang jauh ke depan.
Demikian surat terbuka ini saya sampaikan. Atas perhatian dan kebijaksanaan yang luhur, saya ucapkan terima kasih.
Lumajang, 8 Oktober 2026
Hormat saya, Syamsudin Nabilah Rakyat Indonesia yang menginginkan keadilan dan kejujuran. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.